3.2K

Sejak era Kartini, perempuan Indonesia mulai keluar dari dapur. Mereka dilatih untuk mampu bersaing dengan laki-laki soal peran dan pekerjaan. Buah manis revolusi kaum perempuan lebih dari seabad lalu masih terasa sampai sekarang loh, RulaWoman. Misalnya saat seorang perempuan dengan kedudukan tertentu mampu mengarahkan bawahannya yang berjenis kelamin laki-laki, juga saat pekerja berseragam rapi di gerbong kereta hampir sama jumlahnya antara laki-laki dan perempuan. Secara naïf, dunia professional Indonesia kini dianggap berada pada level meritrokasi. Namun apakah gender bias sudah benar-benar gak ada lagi?


source :


Sebuah penelitian yang dilakukan Kiyoshi Taniguchi and Alika Tuwo dalam ADB Economics Working Paper Series tahun 2014 mengkonfirmasi bahwa terdapat gender pay gap atau kesenjangan gaji antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Berdasarkan survey tahun 2010 tentang tenaga kerja dalam penelitian yang sama, pekerja perempuan menerima gaji 30.8% lebih rendah dari laki- laki. Sebesar 27.8% dari angka tersebut disebabkan oleh diskriminasi gender dan sisanya (2.1%) disebabkan faktor non-diskriminasi seperti pendidikan, jam bekerja, dan lain-lain. The International Labor Organization (ILO) juga mencatat gender pay gap di Indonesia pada tahun 2012 menyentuh angka 19%.

Nah, budaya patriarki di Indonesia tentu punya kontribusi terhadap kesenjangan gaji tersebut. Laki-laki dianggap figur utama dalam rumah tangga dan perempuan merupakan pendamping. Sebagai info, nih. Ada loh pernyataan bahwa suami wajib memberi nafkah kepada istri dan istri wajib mengurus rumah tangga dalam UU Perkawinan. Diskriminasi yang terjadi selama ini bisa jadi mengacu pada isi dari UU Perkawinan tadi, di mana laki-laki sebagai pemberi nafkah memang sudah ‘sewajarnya’ mendapat gaji yang lebih tinggi karena memiliki tanggungan anak dan istri. Sebaliknya, perempuan yang pekerjaan utamanya adalah mengurus rumah tangga, akan memperoleh penghasilan yang lebih rendah karena dianggap hanya menyokong penghasilan utama suaminya.

Terjadi di Hampir Semua Negara

Sumber: The WEF Gender gap index world map for 2013

Kesenjangan gaji perempuan dan laki-laki memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Gambar di atas menunjukkan peta gender pay gap di seluruh dunia pada tahun 2013. Warna merah mengindikasikan kesenjangan yang besar, sedangkan hijau berarti semakin setara. Lihat, warna merah mendominasi peta kan RulaWoman? Terlepas dari tinggi rendahnya, kesenjangan gaji antara perempuan dan laki-laki dapat dipastikan hadir di semua benua dengan berbagai alasan. World Economic Forum bahkan memprediksi butuh setidaknya 118 tahun untuk menghapus kesenjangan tersebut.

Serangan Balik

Ketika dunia internasional dan kaum feminis menggembar-gemborkan data statistik tentang kesenjangan gaji, muncul suatu pertanyaan sederhana:

Kalau perempuan memang dibayar lebih rendah untuk pekerjaan dan kualifikasi yang sama, kenapa masih ada yang mempekerjakan laki-laki?

Kalau dianggap retoris, pertanyaan ini merupakan backlash dari seluruh uraian di atas. Tentu saja, karena laki-laki punya kemampuan lebih yang membuat perusahaan rela mempekerjakan mereka meski bayarannya lebih tinggi. Sebagai perempuan, wajar saja RulaWoman tidak sepakat dengan jawaban dari pertanyaan retoris di atas. Pasalnya anggapan soal kompetensi lebih kaum lelaki justru merupakan gender bias yang selama ini mengakari masalah-masalah kesetaraan di Indonesia dan dunia.

Rasanya jawaban yang lebih tepat adalah ketimpangan jumlah tenaga kerja laki-laki dan perempuan dalam industri tertentu. Di industri pertambangan dan gas yang didominasi laki-laki, perempuan sebagai minoritas yang hendak bekerja di industri tersebut mau tidak mau harus menerima nominal gaji yang ditawarkan. Perusahaan tambang boleh jadi berniat mempekerjakan banyak perempuan karena kualifikasinya yang sama tetapi gajinya lebih rendah dari laki-laki, namun apakah jumlah perempuan di pasar tenaga kerja industri pertambangan memadai? Perempuan lekat dengan nurturing, oleh karena itulah perempuan banyak berkutat di pekerjaan administratif dan bukan yang berbau teknis seperti teknologi atau pertambangan.

Meskipun demikian, fakta menunjukkan bahwa dalam industri yang didominasi perempuan sekali pun, laki-laki tetap memperoleh bayaran lebih tinggi. Disadari atau tidak, gender bias bisa jadi faktor penentu dalam banyak kasus. Dalam bidang public relations, laki-laki dianggap punya komitmen lebih besar dibanding perempuan dalam pekerjaan. Hal inilah yang menyebabkan jabatan manajerial public relations lebih sering dipegang laki-laki, meskipun industrinya sendiri didominasi perempuan. Forbes.com bahkan mencatat sebanyak 80% posisi manajemen tingkat atas PR dikuasai laki-laki. Selain alasan gender bias, kesenjangan gaji juga ditenggarai keengganan pekerja perempuan untuk melakukan negosiasi gaji, berbanding terbalik dengan laki-laki yang cenderung lantang dan jujur.


Percayalah, kesenjangan berbasis diskriminasi ini nyata dan telah dibuktikan berbagai data statistik. RulaWoman mungkin bukan salah satunya, tapi ada begitu banyak perempuan di luar sana yang bahkan tidak sadar sedang mengalaminya. Kami yakin masih ada semangat Kartini yang menyala di dada perempuan Indonesia. Jagalah agar cahaya itu jangan padam, salah satunya dengan mematahkan persepsi bahwa perempuan hanya mahir dalam nurturing. Perempuan muda yang baru menyelesaikan pendidikan SMA perlu menginvasi jurusan-jurusan kuliah dengan prospek gaji tinggi yang justru didominasi laki-laki. Pendidikan tinggi adalah harga mati dan performa di tempat kerja harus jadi yang utama. Yang paling penting, mulailah berani melakukan negosiasi gaji dengan baik. Setuju, RulaWoman?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ada Kesenjangan Gaji Dengan Pekerja Laki-Laki? Ternyata Ketidakadilan Bagi Perempuan Di Dunia Kerja Masih Ada, RulaWoman". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Dita Indira | @ditaindira

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar