1.6K
Karena bagi saya menulis selalu jadi proses pembelajaran, nggak pernah ada kata gagal!

Pada suatu kesempatan di beberapa minggu lalu, saya berhasil mengontak seorang kenalan, sekaligus seorang penulis, penyuka astronomi, dan traveler. Rhein Fathia, alumni Universitas Indonesia jurusan Fisika ini adalah penulis novel bergenre romance yang telah menerbitkan 5 buku di antaranya Jadian 6 Bulan, Jalan Menuju Cinta-Mu, Seven Days, Coupl(ov)e, dan Gloomy Gift. Perempuan kelahiran 13 Juni ini percaya, siapa yang berbahagia di dunia juga akan bahagia di akhirat, sebab itu ia selalu berusaha melalui hari dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menurutnya menyenangkan!

Kini, Rhein menetap di Australia sambil merampungkan studinya di bidang creative writing. Kira-kira bagaimana ya, rahasia hidup bahagia dan seimbang ala Rhein Fathia?

Yuk, simak di bawah ini, RulaWoman!

dok. pribadi

Q: Halo, Rhein, bagaimana kabarnya?

A: Masih waras. Hahaha…

Q: Rhein Fathia dikenal sebagai seorang penulis yang cukup aktif dan sudah menghasilkan 5 novel yang laris manis, apa sih rahasianya bisa menulis dengan baik? Apa Rhein jadwal tertentu untuk menulis setiap harinya?

A: Sebenarnya nggak punya rahasia sih kalau untuk menulis. Saya hanya menyampaikan apa-apa dalam hati dan otak yang -menurut saya- pembaca perlu tahu dan akan memberi pemahaman baru bagi mereka. Jadwal menulis tertentu juga nggak ada, meski sehari-hari saya tetap menulis walau beberapa paragraf. Kecuali ada novel yang sedang ditulis, saya pasti nulis tiap pagi.

Q: Ceritakan sedikit dong awal mula Rhein terjun ke dunia menulis, dan apa alasan kuat yang membuat Rhein ingin jadi penulis?

A: Awal serius menulis baru-baru ini sih, waktu saya masih SMA, kira-kira 12 tahun lalu. Alasan kuat karena saya hobi curhat tapi nggak suka ngomong, jadi mending ditulis.

Q: Pernah mengalami kegagalan dalam menulis?

A. Nggak pernah. Karena bagi saya menulis selalu jadi proses pembelajaran dan nggak pernah ada kata gagal.

Q: Berikan beberapa tips singkat untuk mereka yang baru terjun ke dunia menulis, atau sudah lama bercita-cita menjadi penulis.

A: Banyak baca, asah sensitifitas terhadap lingkungan, dan jangan jadikan ‘penulis’ hanya sebagai cita-cita. Do write!

Q: Selain menulis, apa kegiatan rutin Rhein sehari-hari?

A: Karena sekarang tinggal di Australia, kegiatan sehari-hari pagi sampai sore kerja, malam kuliah, dan weekend jalan-jalan.

Q: Selain studi di Australia, katanya Rhein juga mendapat pekerjaan sebagai AuPair? Bagaimana kiat membagi waktu agar semuanya berjalan lancar sesuai rencana?

A: Kiat membagi waktu sejak tinggal di Australia adalah: make everything simple and focus. Kerja, belajar, have fun. Hal yang paling terasa adalah saya mengurangi jatah main social media dan hasilnya ternyata lebih produktif dan menyenangkan di dunia nyata.

Q: Apa Rhein masih aktif menulis selama di Australia?

A: Masih karena saya ambil kuliah creative writing dan pasti tugasnya adalah menulis, dalam bahasa Inggris pula. Stres.

Q: Rhein juga termasuk orang yang senang traveling, negara atau kota mana saja yang sudah pernah Rhein kunjungi?

A: Meski nggak terlalu banyak, tapi saya juga agak lupa. Baru beberapa kota di negara-negara ASEAN, Australia, dan Saudi Arabia.

Q: Negara atau kota mana yang paling menarik menurut Rhein, dan mengapa?

A: Saudi Arabia, kota Madinah. Lebih karena pengalaman spiritual religious sih. Saya merasa aman, tenang, dan tidak peduli duniawi selama di sana.

Q: Jika diberikan kesempatan untuk mempelajari sesuatu bahkan hingga ke ahlinya langsung, Rhein ingin belajar tentang apa?

A: Belajar gambar.

Q: Apa saja kesulitan atau halangan selama stay di negeri orang, dan bagaimana Rhein mengatasinya?

A: Kendala bahasa yang utama karena itu modal komunikasi. Cara saya mengatasinya adalah jangan terlalu sering ngumpul dengan orang Indonesia. Hehehe.. Ini bukan sombong atau gimana. Punya banyak teman dari negara sendiri itu bagus karena bagaimana pun juga pertalian sesama negara lebih kuat (untuk negara mana pun). Namun kalau ingin memperlancar komunikasi dalam bahasa Inggris untuk survive, saya tinggal di apartemen dengan penghuni dari asal negara berbeda. Saya bekerja dengan orang dari negara berbeda. Saya juga kuliah dengan teman-teman sekelas dan guru dari negara berbeda. Mau tidak mau itu memaksa saya berani untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kalau cas-cis-cus English udah lancar, tinggal percaya diri aja.

Q: Hal positif apa yang Rhein dapatkan dari menetap di luar negeri serta berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara/etnis?

A: Banyak banget, yang pasti membuat pikiran saya lebih terbuka. Cobalah tinggal di luar negeri, bergaul dengan banyak orang, dan menjadi pendengar yang baik. Cukup jadi pendengar dan kita bisa belajar banyak hal. Saya juga lebih menghargai dan memahami perbedaan karena tiap teman dari negara atau etnis berbeda memiliki kebiasaan berbeda. Selain itu, entah kenapa saya jadi jarang update social media. Rasanya lebih menyenangkan ngobrol sama mereka di dunia nyata. Banyak cerita yang bisa dibagi.

Q: Studi atau bekerja di luar negeri tampaknya masih terlihat sulit di mata sebagian orang, menurut Rhein bagaimana?

A: Iya sulit. Dari yang saya amati, hal mendasar yang membuat sebagian besar orang Indonesia merasa sulit tinggal di luar negeri adalah mereka terlalu di-nina bobo-kan oleh keadaan. Contoh kecil, kemana-mana ada layanan ojek online atau angkot yang siap berhenti hanya kita melambaikan tangan. Lapar sedikit bisa delivery atau keluar rumah ada tukang gorengan. Segalanya mudah dan murah. Di luar negeri, kemana-mana jalan kaki, mau naik bus aja musti jalan jauh dulu ke halte. Mau makan dan hemat ya harus masak. Pola belajar di Indonesia juga lebih kepada dikasih soal/pertanyaan dan jawabannya ada di buku (kalau kita mau baca). Di sini, setiap tugas selalu muter dan mengasah otak. Tiap siswa punya jawaban berbeda dan pasti diminta pertanggungjawaban atau alasan. Meski sulit, yang pasti selama kita mau belajar, tangguh, dan gesit, pasti bisa survive.

Q: Satu hal yang ingin Rhein sampaikan untuk RulaWoman?

A: Jadilah perempuan yang bisa memberi manfaat untuk orang lain. Bermanfaat untuk keluarga itu sudah biasa. Sebagai perempuan kita mampu untuk memberikan lebih banyak kebaikan bagi lingkungan. Jangan kebanyakan galau sama gosipan, perluas wawasan, asah pemikiran, kreatif di waktu luang. Karena satu kebaikan yang tersampaikan akan menular ke kebaikan lain.

Who run the world? GIRL!


Nah, itulah beberapa tips menulis dan resep agar bisa survive di negeri orang ala Rhein Fathia! Jadi hal yang paling sederhana yang bisa kamu lakukan untuk menjadi penulis adalah mulai menulis, RulaWoman! Jangan takut salah atau gagal, sebab tidak ada yang salah dari mencoba suatu hal. Dan bukan tidak mungkin suatu hari kamu juga bisa seperti Rhein, lho! Studi di luar negeri sambil belajar menulis dan mendapatkan teman-teman baru dari berbagai etnis, why not?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup Seimbang dan Bahagia ala Rhein Fathia: Menekuni Hobi Menulis, Traveling, Hingga Survive Kuliah Creative Writing Di Australia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Mput | @petronelaputri

a weird woman who love an adventure more than the flowers bouquet // sometime blogging // enjoy her random life

Bagaimana menurutmu?