1.8K
Pilihanku manusia biasa, walaupun mas kawinnja hanya betjak -Tiga Dara 1956-

Buat kamu pecinta film klasik, tentu gak asing sama film karya Usmar Ismail yang berjudul Tiga Dara di tahun 1956. Nah, pada bulan Agustus 2016 lalu, film ini berkesempatan direstorasi dan dapat dinikmati lebih meriah oleh kita, RulaWoman! Siapa sangka kalau dinamika kakak-beradik yang sarat dengan spirit of sisterhood ini rasanya masih relevan banget dengan kehidupan kita sekarang. Nenny si bungsu, masih muda dan ceria banget. Beda lagi sama Nana si anak tengah yang begitu romantis dan semangat mengejar cinta. Sebaliknya, Nunung si dara pertama justru seorang introvert yang menutup diri.

Lucky for us, Nia Dinata juga mengambil inisiatif buat membuat remake yang terinspirasi dari film ini. Hasilnya, sebuah karya tak biasa yang pas banget kita tonton untuk refleksi diri sebagai perempuan. Yuk, kenalan sama Gendis si kakak pertama yang tertutup namun penyayang, Ella yang super feminin dan jadi bos di hotel mereka, serta si bungsu Bebe yang punya passion mengajar anak-anak sekitar. Kira-kira, kenapa ya film ini perlu banget ditonton sama sahabat terdekat atau kakak-adik perempuan kita? Simak 9 alasan serunya di bawah ini!


1. 3 Dara punya passion masing-masing dalam hidup, bagaimana denganmu?

1.	3 Dara  Punya Passion Masing-masing Dalam Hidup, Bagaimana Denganmu? - sources:  IG @SAFilms
sources: IG @SAFilms

Dikutip dalam wawancaranya mengenai film Ini Kisah 3 Dara, Nia Dinata bilang kalau perbedaan utama film Ini Kisah Tiga Dara dengan Tiga Dara 1956 adalah misinya untuk empowering women, utamanya perempuan modern masa kini.  Memang sih, banyak plot atau adegan yang terinspirasi dari film Tiga Dara dulu, tapi film Ini Kisah 3 Dara mengedepankan pesan bahwa merekalah perempuan yang punya kecintaan dan mimpi besar dalam hidupnya.

Bahkan, dalam salah satu morning show  televisi swasta beberapa saat yang lalu, Teh Nia menyampaikan sebuah poin yang cukup menarik. Ia bilang, di film 3 Dara 1956, gak diceritain tuh bagaimana 3 Dara mengisi hari-hari selain berinteraksi dengan keluarga & tokoh-tokoh dalam film. Apakah mereka ini sekolah atau kerja. Nah, poin ini yang kemudian menjadi pembeda utama film Ini Kisah 3 Dara. 

Diceritakan, Gendis yang diperankan Shanty, Ella yang diperankan Tara Basro, dan Bebe yang diperankan Tatyana Akman punya passion masing-masing dalam hidupnya. Gendis akan kecintaannya pada masak, Ella yang running the hotel management, dan Bebe yang mengajar anak-anak di sekitar. Wah, poin pembeda utama ini ngingetin kita juga ya, bahwa ternyata  punya kontribusi pada masyarakat adalah hal yang berarti. 


2. Mandiri bukan berarti sangar dan menakutkan, ini semua tentang mindset

2.	Mandiri Bukan Berarti Sangar Dan Menakutkan, Ini Semua Tentang Mindset  - sources: youtube SA Films
sources: youtube SA Films

Ada satu adegan ketika 3 Dara baru sampai di bandara sehabis perjalanan jauh. Mereka siap-siap membawa barang yang banyak banget ke mobil. Buat mereka, itu sama sekali gak masalah, tuh. Sayangnya, Oma yang dalam film ini diperankan oleh Titiek Puspa  ngotot banget barang-barang mereka harus dibawa oleh porter. Katanya, anak gadis kok angkat-angkat barang.

Hal menarik, ayah 3 Dara yang diperankan oleh Ray Sahetapy justru merasa 3 anak perempuannya wajar-wajar saja membawa barangnya sendiri. Dari adegan itu, kita tahu bahwa selain jadi perempuan mandiri adalah hal yang oke banget, tapi didikan orangtua juga akan berpengaruh pada persepektif kita.


3. Ingat, Indonesia itu indah banget!

3.	Ingat, Indonesia Itu Indah Banget! - sources: youtube SA Films
sources: youtube SA Films

Film ini juga memotret Indonesia lewat landscape Maumere NTT yang sangat cantik. Tempat-tempat yang diambil untuk shoot luar biasa indah, deskripsi akan masakan-masakan khas Maumere juga begitu menggugah selera, sampai paparan tentang tradisi yang dengan apik diselipkan dalam pembicaraan para tokoh. Pokoknya, bikin kita makin tahu kalau Indonesia itu, Indah.


4. Potret kecantikan perempuan Indonesia yang beragam

4.	Potret Kecantikan Perempuan Indonesia Yang Beragam - sources: youtube SA Films
sources: youtube SA Films

Dalam dokumentasi SA Films saat proses pencarian pemeran Bebe, Nia Dinata menyampaikan kalau ia mencari sosok perempuan yang merepresentasikan perempuan Indonesia. Baginya, tiap individu itu unik! Hasilnya, kita disuguhkan kecantikan khas Indonesia yang diwakili oleh Shanty, Tara Basro dan Tatyana Akman.

Kalau sudah begini, gak perlu minder lagi deh kalau kita ngerasa gak mirip sama model-model indo yang ada di majalah mode. Film ini ngingetin kalau kecantikan sama sekali gak binary, kok.


5. Tidak lupa, kita juga diingatkan bahwa berbagi itu gak pernah mengenal bahasa

5.	Tidak Lupa, Kita Juga Diingatkan Bahwa Berbagi Itu Gak Pernah Mengenal Bahasa - sources: IG @ibunia
sources: IG @ibunia

“Bahasa ciptaan manusia. Kita belajar untuk saling mengenal.”
-Vowel Song, Ini Kisah 3 Dara (2016)-

Gak sekedar mengenalkan keindahan tradisi timur Indonesia dan mengingatkan kita bahwa kecantikan perempuan Indonesia beragam, Ini Kisah 3 Dara juga menyelipkan semangat manis untuk berbagi pada sesama. Pesan tersebut disampaikan lewat Bebe yang mengisi hari-harinya dengan mengajar anak-anak di  Kabupaten Sikka. Simak saja lagu Vowel Song yang dibawakan Tatyana bersama adik-adik pelajar. Kita kemudian tahu bahwa mengisi hari dengan berbagi juga jadi jembatan untuk  saling mengenal di antara keberagaman, bukan?


6. Berbeda tidak berarti harus bercerai berai

6.	Berbeda Tidak Berarti Harus Bercerai Berai - sources: youtube SA Films
sources: youtube SA Films

Bicara keberagaman, di sini juga dipotret tentang keberagaman yang kerap hadir di antara kita. Oma yang diperlihatkan menjalani shalat subuh, tapi bersama anak cucunya menjalankan bisnis hotel di Maumere yang kebanyakan adalah umat Kristiani. Atau saat Yudha Palle yang diperankan Rio Dewanto berkunjung ke salah satu gereja dan juga bercerita pada ayah 3 Dara tentang salah satu orang tuanya yang pindah agama. Bagi film ini, keberagaman yang kita miliki bukanlah hal tabu yang mesti dianggap angin lalu.

Kita ada, dan Nia Dinata memotret hal tersebut sebagai bagian dari jalinan cerita.



7. Gendis yang katanya sudah masuk usia rawan nikah. Lalu, beranikah kamu ‘keluar’ dari jalur aman, RulaWoman?

7.	Gendis Yang Katanya Sudah Masuk Usia Rawan Nikah. Lalu, Beranikah Kamu ‘keluar’ Dari Jalur Aman, RulaWoman? - sources: youtube SA Films
sources: youtube SA Films

“ Jangan cucu-cucuku kamu pekerjakan terus menerus. Mereka harus punya kehidupan sendiri. Kalau dikurung terus di sini, kapan mereka bisa dapat jodoh?”
-Oma, Ini Kisah 3 Dara (2016)-

Ucapan Oma ini sebenernya ngegambarin banget persepsi serta pendapat mayarakat tentang perempuan dan konsep ‘kapan kawin’ itu sendiri. Duh, jangankan Gendis yang diceritain sudah 32 tahun dan selalu ditanya kapan nikah. Faktanya, angka pernikahan anak di Indonesia masih tinggi loh. Kalau sudah gitu, faktor budaya dan agama juga membawa pengaruhnya masing-masing akan fenomena ini. Makanya, lagu Pasar Geliting yang ada di film ini juga punya lirik yang dalem banget, 

“ Lagi lagi bicara soal perkawinan ternyata banyak membawa kerepotan, makan banyak pengorbanan.” 

Hmm, iya juga ya. Cinta kadang berbaur dengan harga diri, tradisi keluarga, sampai mas kawin yang segudang. Sebenarnya, kita mau mengukur cinta dengan apa ya, RulaWoman?


8. Kadang yang terbaik bukan yang kita mau, tapi yang kita butuh

8.	Kadang Yang Terbaik Bukan Yang Kita Mau, Tapi Yang Kita Butuh - sources: youtube SA Films
sources: youtube SA Films

Lain Gendis si anak pertama, ada juga kisah Ella si anak kedua yang justru super romantis dan gak sabar menunggu cinta.

Kalau aku sih, when i feel love, i know it right away. Makanya ‘kan ada orang bilang love at first sight. “

Perhatikan Bima,  teman  kecil Ella yang selalu ada saat dibutuhkan, meski Ella juteknya setengah mati sama dia. Klise sih, tapi emang bener ‘kan kata-kata bijak yang bilang kalau sesuatu yang kita pengen  sebenernya belum tentu yang kita butuh?


9. Pada akhirnya, film ini tentang kita dan dunia yang sama sekali tidak sederhana

9.	Pada Akhirnya, Film Ini Tentang Kita Dan Dunia Yang Sama Sekali Tidak Sederhana - sources: liputan6.com
sources: liputan6.com

“Here were facing the matriach. Do this, do that. Can do this, but can’t do that.”
-Matriach,Ini Kisah 3 Dara (2016)-

Adalah tokoh Oma yang jadi representasi dunia terhadap anggapan yang seharusnya sesuai bagi perempuan. Harus ladylike, harus cepet nikah, dan harus-harus yang lainnya. Tapi sebenarnya, apa sih yang paling penting dan benar itu?

“Jangan kecentilan sayang.”
“Terus aku kapan?”
“ Nanti setelah gendis.”
- Oma kepada Ella, Ini Kisah 3 Dara (2016)-

Judgement akan perempuan centil yang make a move duluan, atau Ella yang dilarang ‘melangkahi’ kakaknya. Juga Gendis yang begitu cintanya pada memasak dan berhasil menerjemahkan kontradiksi memasak sebagai bentuk kerja domestik, jadi hal yang punya basis material. Komersil, karena menjadi chef dan memimpin sebuah kitchen hotel tentu tak main-main. Atau pun keputusannya untuk belum menikah saat usia sudah dianggap pantas.

Potret ini berusaha ditampilkan film Ini Kisah 3 Dara sebagai bagian dari problematika perempuan masa kini. Diakui atau tidak, memberi ruang untuk kita berkaca. 

Seperti itukah sebagian dilema yang tengah kamu hadapi RulaWoman?

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Kisah Tiga Dara dan 9 Alasan Mengapa Mereka Adalah Kita". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nike Nadia | @nikenadia

ISFJ | Le fondeur social initiative for girls @helpnona | Co Editor RULA.co.id , the viral content media for women | Volunteer at heart ♡| IG : @nike_nadia * Twitter : @nikknad

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar