453
To travel is to live. Hans Christian Andersen.

Masih hawa liburan nih, RulaWoman. Kalian sudah kembali beraktifitas, masih menikmati libur akhir tahun atau justru belum sempat berlibur karena deretan pekerjaan yang tidak bisa ditunda? Jangan khawatir, karena kami punya referensi liburan diluar dari biasanya.

Let’s meet Mas Attar.

Kali ini Mas Attar, sapaan akrab dari Fariduddin Attar, akan share pengalamannya berkeliling Pulau Sumatera dalam waktu 6 hari dengan budget hanya Rp 1.677.000,-. Solo traveller yang satu ini memiliki segudang foto-foto luar biasa hasil dari penjelajahannya berkeliling Pulau Sumatera. Berbekal insting, pengetahuan, dan ada salah seorang teman yang tinggal di daerah yang ia tuju, akhirnya sampailah ia pada kota tujuan utama: Padang!

Jam Gadang. Ikon paling terkenal Kota Padang. Sumber: dok.pribadi

“Perjalanan kali ini sebenarnya dadakan. Karena kebetulan ada undangan ke acara resepsi pernikahan teman di Palembang. Tapi rencana ingin ke Padang itu memang sudah ada, jadi ketika sudah tiba ke Palembang, #Whynot untuk melanjutkan perjalanan ke Padang?” Ujarnya.

Destinasi pertama adalah kota Palembang. Surganya pempek itu memang top banget deh. Saat tiba disana, Mas Attar tidak mau melewatkan untuk menikmati Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak dan Sungai Musimeskipun waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tetapi memang sebaiknya jika RulaWoman ingin jalan-jalan ke Jembatan Ampera jangan lebih dari pukul 9 malam ya, karena rawan tindakan kriminal. Mas Attar punya rekomendasi tempat makan pempek yang enak sekaligus murah nih, RulaWoman bisa ke Pasar 26 Ilir tepatnya di Pempek Pak Edi. Satu buah pempek harganya mulai dari Rp 1.000 – Rp 20.000.

Pemandangan Jembatan Ampera malam hari. Sumber: dok.pribadi

Setelah menghadiri acara resepsi pernikahan teman yang berlangsung di Batu Raja, tak mau berlama-lama, Mas Attar melanjutkan perjalanan ke Padang dengan menggunakan bus seharga Rp 225.000 melewati jalur lintas Sumatera (barat).

Perjalanan selama 24 jam itu, tentunya memiliki pengalaman tersendiri. Dengan penumpang bus yang saat itu hanya 5 orang, termasuk Mas Attar, and totally berbahasa Minang! Jangan harap bisa update status di media sosial kamu, karena tidak ada sinyal selama perjalanan itu. Tapi RulaWoman gak akan merasa bosan, di kiri dan kanan jalan akan disuguhkan pemandangan hijau yang memanjakan mata, karena sejauh mata memandang akan banyak hutan karet dan kelapa sawit. Malam menjelang, bus yang membawa Mas Attar rehat sejenak di kota Jambi pukul 6 sore dan di Kabupaten Padang Tinggi pukul 2 malam.

Hingga bus yang ditumpanginya transit di daerah Cupak dengan ciri khas tanaman cokelat. Disela-sela obrolan kami, Mas Attar pun sempat bercerita soal Taman Bung Hatta yang ada di Cupak, disana tersimpan cerita yang menyeramkan, konon ada pemuda yang putus cinta dan mengakhiri hidupnya disana. Ih, serem.

Kota Padang sudah didepan mata dan seorang teman yang akan menemaninya berkeliling kota ini juga sudah tiba. Saatnya berkeliling!

Karena ada titipan dari temannya di Jakarta, Mas Attar singgah di Kota Padang Panjang untuk membeli makanan khas yaitu jagung goreng, sekalian juga membeli oleh-oleh lain seperti galamay. Uniknya, jika RulaWoman melihat sekilas galamay, akan mengira bahwa ini adalah dodol Garut, bedanya galamay menggunakan santan saat pembuatannya. RulaWoman gak perlu khawatir menguras dompet terlalu dalam karena harga galamay Rp 3.000/pack sedangkan jagung goreng Rp 30.000/kg.

Yes! Suasana horor kental sekali saat berada didalam Goa Jepang. Sumber: dok.pribadi

Menuju Bukit Tinggi, Mas Attar mengunjungi Ngarai Sianok yang dalam bahasa Padang berarti lembah. Didekat Ngarai Sianok, terdapat banyak tempat wisata salah satunya adalah Goa Jepang. Meski bernuansa horror, tapi tidak mengurutkan niat Mas Attar untuk memasuki goa tersebut. Bayangkan saja, saat itu hanya dua orang yang ada didalam goa; Mas Attar dan temannya. Suhu dingin didalam gua serta penerangan yang kurang dengan 140 anak tangga yang menghubungkan 12 pintu angin. Apakah RulaWoman bisa merasakan bagaimana bergidiknya suasana di dalam goa itu?

Menelusuri Goa Jepang hingga ke pintu keluar ternyata membawa Mas Attar menuju bukit Koto Gadang dan melewati Great Wall seperti yang ada di China! Eits, perjalanan belum berakhir, RulaWoman. Setelah itu Mas Attar berlanjut ke ikon Kota Padang yaitu Jam Gadang dan Kelok Sembilan, jangan lupa untuk take a selfie. Hehe

Perjalanan panjang tentu dilengkapi dengan wisata kuliner yang tidak bisa lewatkan. Beruntung teman perjalanan Mas Attar ini mengajaknya pergi ke Payakumbuh untuk makan sate danguang danguang alias sate lidah sapi, satenya itu enak dan sedap!

Pagi sudah datang lagi, dihari ke 5 dan masih di Payakumbuh, tempat Mas Attar menginap, yang merupakan rumah orangtua dari teman Mas Attar. Mereka berbincang-bincang mengenai cara memasak rendang khas Padang yang paling enak. Tapi sayangnya karena kurang persiapan jadi yang dimasak adalah ikan goreng sambal balado yang tidak kalah mantap.

“Proses memasak rendang khas Padang itu 3 hari.” Begitu kata orangtua dari teman Mas Attar.

Sebagian besar penduduk di Sumatera Barat bermatapencaharian sebagai petani dan pengepul cokelat. Itu terlihat dari banyaknya pohon cokelat dan durian yang tersebar disisian jalan yang begitu asri.

Siang hari di Sungai Tarab, mereka menikmati minuman khas daerah yang bernama KawaDaun, adalah rebusan daun kopi kering yang dituang bersama susu kental manis putih seharga Rp 5.000/gelas.

Tak berselang lama, perjalanan berlanjut ke Danau Singkarak. Danau air tawar terbesar di Sumatera Barat setelah Danau Toba ini memiliki mitos yang tak kalah menyeramkan loh, RulaWoman. Disebutkan bahwa penghuni Danau Siangkarak acapkali meminta korban anak-anak. Meski beredar mitos seperti itu, danau dengan air jernih itu juga menjadi tempat hidup ikan bilis.

Pesona Danau Singkarak tak kalah dengan Danau Toba. Sumber: dok.pribadi

Senja menyapa. Pukul 5 sore Mas Attar tiba di Masjid Raya Solok kemudian menuju pemandian air panas kaki Gunung Salak Sawah Lunto. Hingga memutuskan untuk bermalam di Solok. Esok paginya, Mas Attar pulang ke Padang melewati tikungan yang begitu tajam dan terkenal. Tapi meski begitu, disana terdapat view point yang tepat untuk melihat bukit, Kota Padang dan laut loh RulaWoman.

Mushola unik ini ada di lingkungan Univ. Andalas loh. Sumber: dok.pribadi

Perjalanan berakhir dihari ke-6. Saat itu Mas Attar menyempatkan diri menuju Pantai Padang. Disana pula terdapat Tugu Perdamaian semacam Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Bendera-bendera negara lain selain Indonesia turut berkibar disana. Tujuan dibangunnya Tugu Perdamaian adalah untuk mengamankan area territorial laut.

Langkitang. Makanan ini mirip dengan tutut ya. Hehe... Sumber: dok.pribadi

Sejatinya dalam melakukan perjalanan ada beberapa hal yang dapat kamu petik, manfaat yang bisa kamu ambil untuk kehidupan yang kamu jalani saat pulang kembali. Adalah pentingnya bersosialisasi, memahami budaya daerah bahwa setiap individu pastilah memiliki perbedaan, nah disaat itu kita harus meningkatkan sikap toleransi.

Jadi, bagaimana RulaWoman, sudah terbayang akan pergi kemana liburan mendatang? Keliling Pulau Sumatera Dalam Waktu 6 Hari Dengan Budget Minim? #Whynot?Semoga kisah dari Mas Attar menginspirasimu ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Keliling Pulau Sumatera Dalam Waktu 6 Hari Dengan Budget Minim? #Whynot? Begini Kisah Selengkapnya dari Mas Attar". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Siti Yulianingsih | @styulians

A student of Accountancy STIE Ahmad Dahlan. A Staff of Finance PT Dapur Cokelat. A writer at Storial.co.

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar