3K
Sesungguhnya aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. - Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang – Ramadhan K.H.

Tepat tanggal 17 Agustus 2016, negara kita merayakan peringatan kemerdekaan yang ke-71. Bicara mengenai kemerdekaan, tak akan lepas dari dua orang proklamator yang membawa Indonesia pada gerbang kemerdekaan, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, atau yang lebih sering dikenal sebagai Bung Karno dan Bung Hatta. Keduanya kini bergelar proklamator dan nama beliau digunakan sebagai nama bandar udara internasional utama di negeri ini.

Sebuah kalimat bijak mengatakan, selalu ada perempuan hebat di balik laki-laki yang berhasil. Begitu pula dengan Bung Karno, tentu ada banyak pihak yang mendorong dan menyemangati semangat perjuangan beliau selama puluhan tahun hingga akhirnya Indonesia bisa meraih kemerdekaan. RulaWoman, dari buku sejarah di sekolah, kita pasti pernah mendapati nama Ibu Fatmawati sebagai ibu negara pertama sekaligus orang yang menjahit bendera pusaka merah putih. Tapi tahukah kamu bahwa ada perempuan tangguh lain yang tak kalah hebatnya, yaitu Ibu Inggit Garnasih.


Siapa Inggit Garnasih?

Inggit Garnasih adalah istri kedua sang proklamator setelah bercerai dengan Oetari yang tidak lain adalah putri dari Tjokroaminoto. Kala itu Bung Karno bertemu dengan Inggit Garnasih ketika tinggal di rumah kos milik Haji Sanusi, suami Inggit. Saat itu baik Inggit maupun bung Karno telah memiliki pasangan masing-masing. Namun, karena pernikahan keduanya kurang berhasil, Soekarno meminta izin pada Haji Sanusi agar beliau mau menceraikan Inggit. Haji Sanusi melakukannya dengan rela, selama Soekarno harus bisa menjaga Inggit dengan baik dan tidak membuatnya bersedih. dan sebisa mungkin tidak membuatnya sedih.


photo credit: Inggit Garnasih

Perjalanan Cinta Inggit Garnasih dengan Soekarno

Rentang usia yang cukup jauh, membuat Inggit Garnasih bisa berperan sebagai istri sekaligus ibu bagi sang proklamator. Kala itu, Bu Inggit berusia 33 tahun, sedangkan Soekarno baru berusia 20 tahun. Selama kurang lebih dua puluh tahun Inggit Garnasih berjuang bersama Soekarno, menopang kehidupan rumah tangga, menemani Soekarno menyelesaikan studinya, hingga turut merasakan penderitaan berada di satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan lain. Dari Ende, Bengkulu, Padang, singgah di Palembang, terlunta-lunta di bawah sikap semena-mena penjajah Jepang, hingga akhirnya berakhir di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, beberapa waktu sebelum perceraian mereka. Keduanya memiliki seorang anak angkat bernama Ratna Djuami, atau yang kerap dipanggil Omi.

photo credit: rgalung.wordpress.com

Perpisahan di gerbang kemerdekaan

Suatu hari, hadirlah Fatma atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Ibu Fatmawati, ibu negara pertama Indonesia. Fatma telah dianggap sebagai anak sendiri oleh Inggit Garnasih. Fatmawati ditempatkan di kamar anaknya tersayang, Ratna Djuami. Tapi Inggit kecewa ketika kemudian sang proklamator mengatakan keinginannya untuk menikahi Fatma, karena impiannya memiliki anak sendiri. Walau Bung Karno tidak pernah berniat menceraikan istrinya, namun Inggit Garnasih tidak rela dimadu dan memutuskan undur diri dari kehidupan Soekarno.


Merdeka pada Agustus 1945

Fatmawatilah yang kemudian menjahitkan bendera merah putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 saat kemerdekaan Indonesia diresmikan. Pada saat yang sama, ternyata Bung Karno sedang sakit malaria, namun tetap hadir untuk membacakan teks proklamasi sekaligus merayakan hari kebebasan negara tercintanya dari tangan penjajah.

Setelah berpisah dengan Bung Karno, Inggit Garnasih kemudian kembali kepada keluarganya di Bandung. Perempuan tangguh ini tidak menyerah, menerima segalanya dengan lapang dada dan kembali melanjutkan kehidupannya. Omi yang semula tinggal bersama Soekarno, kemudian pindah bersama Inggit, karena tidak tahan dengan kerinduan yang teramat kepada sang ibu.

Pada masa tuanya, Inggit Garnasih beberapa kali dijenguk oleh Soekarno. Inggit Ganarsih mengembuskan napas terakhir di usia 96 tahun pada tanggal 13 April 1984.

photo credit: pexels.com
Women should be tough, tender, laugh as much as possible and live long lives. (Maya Angelou)

Salah satu bukti nyata kisah perjuangan seorang perempuan yang mendukung kekasihnya, berdampak besar dan bisa kita nikmati sekarang, hidup di atas tanah yang merdeka. Sebagai perempuan, Inggit Garnasih telah memberikan inspirasi baik sebagai ibu, sahabat, maupun pasangan hidup yang baik, RulaWoman.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengenal Sosok Pendamping Soekarno yang Tangguh dan Belum Banyak Orang Tahu, Inggit Garnasih". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Mput | @petronelaputri

a weird woman who love an adventure more than the flowers bouquet // sometime blogging // enjoy her random life

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar