1.7K
"I wanna see my startup getting bigger across nation wide and also (of course) I don’t wanna miss watching my son growing up. I am willing to do both and to put in effort" - Annisa Purbandari

Tepat pada 8 Desember 2016 lalu, dalam acara bertajuk #WHYNOT Empower Women Through Technology, Girls In Tech Indonesia meluncurkan sebuah buku berjudul #WHYNOT di The Warehouse - Plaza Indonesia, Jakarta. Peluncuran buku ini merupakan akhir dari serangkaian acara yang dilakukan oleh Girls In Tech Indonesia selama 6 bulan terakhir.

Buku Girls In Tech sendiri merupakan kumpulan cerita#WHYNOT Moment dari beberapa orang mentee yang mengikuti acara Girls In Tech. Dan dalam kesempatan ini, Girls In Tech mengundang 4 orang perempuan untuk menceritakan secara langsung #WHYNOT moment mereka.

Berikut adalah kisah yang mereka ceritakan di acara peluncuran buku tersebut:

1. Fitriah Dwiastuti

Dikenal dengan panggilan Pipit, ibu satu orang anak ini awalnya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi anak dan suaminya. Kesehariannya yang banyak dihabiskan dengan Nawla, anak perempuannya, membuat Pipit menjadi suka bercerita untuk sang anak. Ketika Nawla berumur 3 tahun, setiap kali Pipit bercerita, Nawla selalu menamai tokoh utamanya dengan Nauli. Ketika berumur 5 tahun, Nawla sudah mulai bisa menggambar dan bercerita sendiri. Yang dilakukan oleh Nawla ternyata menginspirasi Pipit untuk membuat bukukuclub.com. Bukukuclub.com merupakan tempat untuk anak-anak bisa menerbitkan hasil karya mereka. Nawla sendiri sudah membuat 2 buku yang bisa diakses di Bukuku.Club. Pipit sudah membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak menghalanginya dalam berkarir, malahan sumber inspirasinya datang ketika dia menjadi seorang ibu. Menjadi seorang ibu sambil bekerja? Why not!

2. Annisa Purbandari

Ketika baby Alvaro masih di dalam kandungan, Nisa sudah mulai menawarkan studentsjob.co.id ke calon investor. Berkali-kali dia harus melakukan presentasi di depan calon investor. Banyak calon investor yang meragukan Nisa saat itu karena kondisinya yang sedang mengandung. Mereka berpikir bahwa Nisa tidak akan sanggup melanjutkan project studentjob. Tapi Nisa berhasil membuktikan bahwa dia mampu melanjutkan studentjob.co.id bahkan sampai melahirkan baby Alvaro yang lucu. Pasti tidak mudah untuk seorang ibu hamil untuk tetap bekerja dan menunjukan betapa layaknya project yang dia ciptakan. Bahkan ketika sang bayi sudah lahir pun Nisa tetap melanjutkan projectnya. RulaWoman pasti kebayang dong bagaimana susahnya untuk seorang ibu mengurus new born baby? Tapi karena keteguhan hati dan niat baik agar mahasiswa bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan walaupun belum memiliki pengalaman bekerja, Nisa bisa melalui semuanya itu. So, mengurus bayi sambil tetap bekerja? Why not!

3. Shinta Puspita

Menurut Shinta, seorang perempuan haruslah bisa berbagai macam keahlian karena perempuanlah yang nantinya akan menjadi guru pertama untuk anaknya. Itu mengapa Shinta belajar banyak hal. Dimulai ketika lulus SMP, Shinta lebih memilih sekolah kejuruan teknik mesin, jurusan yang jarang sekali diambil oleh perempuan. Tapi, kenapa tidak untuk seorang Shinta. Setelah itu dia melanjutkan kuliah jurusan Matematika. Sampai akhirnya bertemu dengan beberapa temannya dan membangun sebuah startup business di bidang IT bernama tokopresentasi.com. Bahkan sekarang bukan hanya tokopresentasi.com, usahanya berkembang dengan adanya tokoprogramming.com dan incubeastudio.com. Shinta telah menunjukkan bahwa menjadi seorang perempuan tidak melulu belajar balet atau menjahit, tapi bisa merambah ke belajar mesin, Matematika bahkan programming. Jadi, mau mencoba subject baru? Why not!

4. Helga Angelina

Meninggalkan pekerjaan yang menjadi impian banyak orang adalah salah satu pilihan sulit untuk Helga saat itu. Namun karena keinginannya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, Helga memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memulai bisnis baru bersama dengan temannya. Bisnisnya dinamakan Burgreens, sebuah restoran vegetarian yang menyediakan makanan berbahan dasar sayuran organic. Padahal saat Helga memulai bisnisnya ini, masih sedikit sekali vegetarian di Indonesia. Namun dengan ketekunan dan niat baik, akhirnya Burgreen bisa sejajar dengan restoran pada umumnya. Rasa, tampilan, aroma dan bahan-bahan organik yang disajikan berhasil menarik minat banyak orang untuk mencobanya bahkan orang-orang yang bukan vegetarian sekalipun. Bukan hanya membantu para vegetarian mendapatkan menu makanan yang lebih bervariasi, Helgapun ikut membantu meningkatkan kesejahtraan petani dan masyarakat lokal. Helga membeli bahan dasar pembuatan makanannya langsung dari petani dengan harga yang jauh lebih layak dibanding dnegan yang selama ini diterima oleh petani dari para tengkulak. Selain itu, para pegawai di gudang Burgreens pun berasal dari ibu-ibu rumah tangga sekitar yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan. Melepaskan pekerjaan dengan gaji yang besar dan memulai bisnis untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik dan membantu masyarakat sekitar? Why not!


Itu tadi hanya 4 dari banyak cerita yang dituangkan di dalam buku #WHYNOT. Ada banyak kisah lain yang tidak kalah menginspirasi dan "memaksa" kamu untuk keluar dari comfort zone, RulaWoman. Kalau kamu maish bingung harus bikin resolusi apa di tahun depan, buku ini cocok banget untuk memandu kamu dan membukakan pikiran kamu tentang apa yang sebenarnya bisa kamu lakukan lebih dari biasanya. So, you better get the book, RulaWoman!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "RulaWoman, Yuk Intip Why Not Moment 4 Perempuan yang Kisahnya Diceritakan Dalam Buku Girls In Tech!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wesa Theslan Bhadrasana | @wesabhadrasana

an encourager who writes about art, children, food, friendship, love, music and women. instagram: @wesabhadrasana email: wesabhadrasana@gmail.com

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar