1.4K
"Mendidik anak adalah mendidik diri" - dari Buku The Secret of Enlightening Parenting

Ada satu hal yang saya ingin tulis sejak kira-kira satu tahun yang lalu, namun selama ini hanya berputar dalam pikiran saya saja. Senangnya, hari ini saya berkesempatan untuk menulis di jurnal pribadi saya ini. Saya dan RulaWoman tahu pasti betapa orang tua sayang pada anaknya. Betapa inginnya orang tua memenuhi apa yang diinginkan anaknya dan alangkah sedihnya saat mereka tidak bisa memenuhi hal yang diinginkan anaknya tersebut. Setuju? Mungkin pada beberapa kasus khusus tidak terjadi seperti itu.

Coba pikirkan bagaimana kebaikan orang tua RulaWoman selama ini, mana keinginanmu yang tidak berusaha mereka penuhi selagi bisa? Mana keinginanmu yang awalnya dibilang “Tidak” namun akhirnya dikabulkan dan betapa senangnya kamu saat itu. Bersyukurlah untuk semua rezeki yang Tuhan alirkan melalui usaha penuh peluh orang tua kita. Begitu juga dengan orang tua saya, keinginan saya yang mana yang tidak mereka usahakan? Terlebih jika saya belajar dengan benar, memenuhi ‘kriteria’ anak baik versi mereka, tinggal bilang saja maka keinginan akan dipenuhi. Bukankah RulaWoman begitu pula?

Keinginan kita kadang berupa kebutuhan emosi yaitu kasih sayang, tapi selain itu ialah materi. Ya, materi. Lingkungan pergaulan membuat saya menginginkan beberapa hal seperti tas Jansport terkini, dress muslim cute beli di HijUp, jalan-jalan ke mal, dan lain sebagainya. Coba selama ini apa yang RulaWoman minta ke orang tua? Baju? Sepatu? Kamera? iPhone? Puma? Gucci? The Body Shop? Ada-Ada saja yang kita inginkan mulai dari karena memang butuh, sampai antara butuh atau tidak tapi disimpulkan butuh saja. Benar? RulaWoman yang bijak saya yakin tidak labil seperti saya ya hehe.

sumber foto dari sini

Segala pemenuhan keinginan yang berupa barang-barang atau kebutuhan liburan tersebut dipenuhi oleh satu hal yang kalau kata Zig Ziglar “bukan segalanya, tapi kita membutuhkannya seperti kita membutuhkan oksigen.” Apa coba? Yes, uang also known as duit. Cara orang tua memberikan uang pada anaknya tentu melalui metode yang berbeda-beda.

Saya diberikan uang per hari, bukan per bulan. Saya biasanya diberikan Rp 35.000 untuk biaya transportasi dan jajan sehari-hari. Alhamdulillahnya, orang tua saya baiknya tidak kira-kira. Ya sejumlah tersebut memang diberikan setiap hari. Tapi kalau saya ingin makan makanan yang agak sedikit mahal, boleh saja. Tiba-Tiba saya perlu ketemu seseorang di mal dan harga makanan disana setidaknya di atas Rp 40.000, dibiarkan. Kalau saya random ingin beli hadiah untuk teman saya, dipersilakan. Kalau saya ingin hari Sabtu ke mal, tidak masalah. Saya ingin beli baju terlepas butuh atau tidak, sok atuh lah. Terima kasih pada orang tua saya dan pada kartu debit yang dibekali mereka pada saya.

Selama saya laporan apa yang saya beli, apa yang saya lakukan. Ya walaupun seringnya laporan dilakukan saat pembelian telah terjadi sih. Selama pakaian atau aksesoris yang saya beli dipakai dan tidak dibeli hanya karena “ih lucu, beli ah.” Salama saya yakin hadiah yang saya beli untuk teman saya akan dipakai. Orang tua saya hanya bilang “Kamu nih pakai uang kok boros.” Namun tetap saja kartu debit tersebut diisi kembali dengan uang hasil jerih payah mereka. Saya bukan anak presiden kok yang uangnya berapa kontainer gitu, setidaknya saya dilebihkan Tuhan akan kecukupan ini.

Poin pentingnya ialah orang tua saya tidak pernah menetapkan ‘uang bulanan.’ Saya hanya diberikan uang harian dan kartu-debit-bebas-pakai-selama-ada-alasan-rasionalnya-yang-kadang-alasannya-tidak-rasional. Iya, jadi kalau beberapa teman mengungkapkan bahwa uang bulanan mereka belum turun, saya tidak pernah benar-benar mengerti. Coba RulaWoman refleksi diri. Apakah manajemen pemberian uang dari orang tua kamu seperti yang saya alami? Setidaknya saya dan beberapa teman terdekat saya mengalami hal yang sama. Orang tua kami tidak pernah menetapkan batas pemakaian uang. Saya mengerti itu karena rasa sayang mereka yang membuat mereka berpikir “Jangan sampai anak gue kesusahan.”

Sayangnya, saya jadi susah menabung. Iya saya bingung, bagaimana menyisihkan uang untuk menabung. Ya bisa sih sebenarnya dari uang harian, tapi kadang uang pecahan kecil sejumlah Rp 35.000 tersebut habis untuk biaya transportasi. Okelah saya bisa hemat. Eh tapi, nanti kalau saya tidak minta beli baju, uangnya tidak keluar. Kalau saya tidak request beli ini itu, ya uangnya juga tidak keluar. Secara uang pasti yang saya terima hanya uang harian tersebut, uang lainnya keluar jika saya sudah meminta. Kalau saya menabung berdasarkan jumlah saldo pada kartu debit? Tapi kan itu uang orang tua saya, nanti menabungnya wajar kalau banyak jumlahnya.

submer foto dari sini

Ya saya jadi bingung. Mau hemat juga untuk apa? Toh, kalau saya ingin sesuatu baru uang keluar, kalau saya tidak ingin apa-apa justru tidak ada uang keluar. Mau menetapkan tips cerdas finansial “alokasikan 20% pemasukan kamu untuk menabung sebelum untuk yang lain” juga susah. Lah, pemasukan saya yang mana coba? Yang Rp 35.000 itu? Atau yang Rp 35.000 ditambah keinginan-keinginan saya yang lain? Ya tinggal tabung saja dulu 20% dari uang harian yaitu Rp 7.000. Iya tidak? Eh tapi kan uang pemasukan saya sebenarnya lebih dari itu, secara pengeluaran saya masih bisa terpenuhi, berarti uang tabungan bisa lebih banyak bukan? Benar kan ya? Voila! Ujungnya saya tidak menabung-menabung.

Beruntungnya, sejak awal 2016 saya mulai bisa menabung.

Cara Menabung Saya Sejak 2016

  • Saya rencanakan dulu apa yang ingin saya beli. Misalnya saya ingin membeli sepasang sepatu.
  • Saya cari tahu berapa harga sepatu yang saya mau baik jika sepatu tersebut diproduksi high-end brand tertentu maupun dari brand lokal yang harganya bersahabat hingga brand lokal yang harganya mahal. Lalu saya putuskan berapa budget yang saya minta. Misalnya harga jenis sepatu yang saya inginkan paling murah Rp 150.000 dan paling mahal Rp 1.000.000, lalu saya ‘berkaca’ pada rata-rata harga sepatu yang saya miliki. Akhirnya saya putuskan untuk mengajukan permintaan budget beli sepatu sebesar Rp 600.000 pada orang tua saya. Lalu terserah orang tua saya akan mengizinkan atau tidak, bisa saja menginzinkan namun budgetnya dikurangi.
  • Setelah kesepakatan budget disetujui, saya akan berupaya semaksimal mungkin membeli sepatu yang saya suka dengan harga dibawah budget yang saya punya.

Voila! Sisanya akan langsung saya masukkan pada kaleng tabungan. Alhamdulillah.

Itulah cara saya menabung, jadi bukan butuh barang langsung beli. Tapi direncanakan dahulu dan dibuat budget pembeliannya. Apalah cara menabung saya yang mungkin terlihat biasa saja ini. Ya apalah saya dibanding kamu yang sudah menabung dari dari TK. Saya juga bersyukur akan bagaimana orang tua saya memberi uang selama ini, karena dari situ saya belajar. Saya belajar bahwa memberi batasan akan pemberian uang pada anak ialah hal yang penting. Agar anak dapat memproyeksikan bagaimana cara berhemat, kebutuhan apa yang harusnya tidak dibeli jika ingin membeli yang lain. Mungkin memang akan kompleks mengenai berapa jumlah uang bulanan untuk anak dan pada pos kebutuhan apa saja uang tersebut berlaku, tapi saya rasa manajemen pemberian uang bulanan ialah suatu keperluan penting. Semoga saya dan RulaWoman yang membaca ini akan menjadi calon Ibu serta Ayah yang bijak dalam mengelola keuangan ya :)


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Satu Hal yang Ingin Saya Terapkan Saat Menjadi Ibu. Apakah Kamu Akan Melakukannya Juga?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Dian Ratna Mahita | @drmahita

An alumni of Business Administration major who loves to read, learn to write, and having a dream to be a businesswoman slash lecturer.

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar