1.5K
Selalu ada bagian dari jiwamu yang menginginkan perubahan.

Rasa ingin tahu yang besar dan ingin keluar dari zona nyaman adalah alasan terbesar saya melakukan ekperimen ini. Awalnya ragu dan ada takut yang begitu besar di dalam dada. Jujur, saya adalah anak rumahan yang tidak pernah keluar jauh dari rumah apalagi sendirian. Pergi kemana pun pasti menggunakan kendaraan pribadi dan selalu ditemani orangtua, adik, pacar atau sahabat. Tidak pernah terlintas untuk mencoba menggunakan kendaraan umum saat ingin bepergian.

Suatu hari, saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk merubah kebiasaan ini. Keluar dari zona nyaman, menumbuhkan keberanian berinteraksi dengan banyak orang baru serta menyingkirkan rasa takut berada dikeramaian.

Jadi kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan.

Saya memulai perjalanan dengan menggunakan kereta. Tujuan pertama adalah untuk sampai ke Indosat Head Office, Jakarta Pusat.

Naik commuter line. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu, itu pun saya tidak sendiri. Bersama teman-teman untuk menghadiri pesta pernikahan teman kampus dan pergi ke kawasan kota tua. Kenyataannya sekarang adalah saya sendiri menuju Jakarta. Awal perjalanan dari Stasiun Serpong sampai ke Stasiun Tanah Abang.

Keadaan di dalam rangkaian kereta sepi. Saya ingin lebih aman dengan memilih gerbong khusus wanita yang letaknya masing-masing di ujung gerbong. Perjalanan semakin asik karena saat ini commuter line dilengkapi dengan Macro ID yang membantu penumpang tidak merasa bosan selama perjalanan. Rasa kantuk datang, saya termasuk orang yang mudah sekali tertidur, tapi saat melakukan perjalanan ini dan menyadari bahwa saya hanya sendiri, itu artinya saya yang harus menjaga diri, saya pastikan untuk tidak tertidur selama perjalanan.

Saya harus melewati sekitar 6 stasiun untuk sampai ke Stasiun Tanah Abang. Sampai di sana, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mikrolet bernomor 08. Di dalam mikrolet, saya merasa takut. Ada 3 orang laki-laki yang dalam pikiran saya mereka mempunyai niat yang tidak baik. Banyak doa yang saya panjatkan saat itu. Tidak berselang lama, saya berhenti di Jalan Budi Kemuliaan. Rasa lega dihati karena tidak terjadi apa-apa.

Tidak terlalu jauh untuk menuju Indosat Ooredoo Head Office melalui Jalan Budi Kemuliaan, hanya 10 menit. Beruntungnya saya, jalanan lengang hari Minggu, karena ada Car Free Day.

Setelah acara yang saya jalani selesai, saya belum ingin pulang. Akan sia-sia jika sudah sampai ke Jakarta tapi tidak berjalan-jalan, akhirnya ide gila ini muncul. Kemudian saya berjalan kaki, melewati jembatan penyebrangan menuju Monas.

Puas berjalan-jalan mengelilingi Monas, saya terpikirkan untuk pergi ke pantai Ancol.

Rencana saya ingin naik busway, tapi saya mencari ongkos perjalanan yang lebih murah, jadi saya naik mikrolet. Memutar balik ke arah Jalan Budi Kemuliaan agar bertemu dengan mikrolet nomor 08, karena yang saya tahu, rute mikrolet itu akan sampai ke kawasan Kota Tua. Wah, bisa transit di Kota Tua dulu tuh. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hehe

Benar saja, saya turun tepat di dekat Stasiun Jakarta Kota. Ah, sekali lagi saya bisa mampir di stasiun tertua di Jakarta, stasiun yang biasa jadi setting film-film yang sering saya tonton di bioskop atau televisi. Ada rasa bangga tersendiri di dalam hati ketika bisa sampai di tempat yang benar-benar belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Tidak sampai lima belas menit saya melihat-lihat suasana Stasiun Jakarta Kota, lalu melanjutkan perjalanan setelah dengan sigap mata ini melihat mikrolet nomor 15 tujuan Ancol. Saya pun kembali meyakinkan dengan bertanya pada si supir, dan benar, mikrolet ini bisa sampai depan gerbang pintu masuk Pantai Ancol.

Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit untuk sampai pantai, yang membuat lama adalah ngetemnya itu. Saya juga kesal jika sudah lama begini tapi mikrolet tidak bergerak maju sedang jam di tangan sudah menunjukkan pukul 3 sore. Akhirnya dengan hati yang penuh kesabaran, saya sampai di Pantai Ancol. Yessss! I can.

Capek, berkeringat, lelah, panas, lapar. Itu yang saya rasakan ketika sampai Ancol. Tapi semua itu hilang dalam sekejap ketika melihat gelombang air laut dan sejuknya angin yang berhembus.

Padahal ini belum selesai, saya masih harus memikirkan bagaimana caranya untuk pulang. Senja datang, malam menjelang. Saya akan melewati jalan yang sama dengan perjalanan saat berangkat tadi, menepiskan rasa takut yang lagi-lagi datang. Maklum, di otak saya, Jakarta itu gelap, banyak kejahatan yang terjadi disana.

Tidak pernah lepas doa dari bibir ini. Menggenggam tas ransel merah yang di letakkan di depan perut. Inilah salah satu cara aman untuk menjaga dan melindungi barang berharga yang ada di tas. Sekali lagi, misi saya berhasil! Saya menghabiskan uang sekitar Rp 70.000 sudah termasuk uang makan.

Inilah hasilnya.

Beberapa hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari hari ini adalah :

1. Rasa takut itu dihadapi bukan dihindari.

2. Mencoba hal baru itu penting, asal bernilai positif, pasti itu akan bermanfaat.

3. Jangan pernah malu bertanya.

4. Siapkan uang receh. Entah itu uang logam atau seribu atau dua ribu.

5. Jadikan sebagai trial dalam solo travelling dengan rute yang lebih jauh.

6. Kata siapa berjalan-jalan sendirian itu tidak menyenangkan? Patahkan asumsi itu!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Terbiasa Menggunakan Kendaraan Pribadi, Saya Bereksperimen Menggunakan Kendaraan Umum Berkeliling Jakarta Sendirian". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Siti Yulianingsih | @styulians

A student of Accountancy STIE Ahmad Dahlan. A Staff of Finance PT Dapur Cokelat. A writer at Storial.co.

Bagaimana menurutmu?

Silahkan login untuk memberi komentar